Presiden RI Joko Widodo, saat pertemuan bilateral dengan
pihak Presiden Republik Sosialis Vietnam Nguyen Xuan Phuc, Istana Kepresidenan
Bogor, Jawa Barat, Kamis 22 Desember 2022.
ENERGITRANSFORMASI, JAKARTA – Energi Bersih yang saat ini disebut-sebut energy baru terbarukan menjadi sector yang terus digaungkan dalam pengadaan energy di sebuah Negara. Guna meningkatkan kerjasama antar Negara, Indonesia dengan Vietnam menyepakati kerjasama dalam energy bersih ini.
Indonesia dengan Vietnam bukan sekali ini saja melakukan
kerjasama. Sektor perdagangan, investasi telah disepakati dalam kerjasama yang
selama ini dijalin. Bahkan, Indonesia baru-baru inipun diketahui melakukan
kerjasama dalam rangka pengadaaan beras di tanah air yang berasal dari Vietnam.
Saat pertemuan bilateral dengan pihak Presiden Republik
Sosialis Vietnam Nguyen Xuan Phuc, Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis
22 Desember 2022 menyatakan sambutan baiknya atas kerjasama energy serta sumber
daya mineral.
"Saya menyambut baik penandatanganan MoU kerja sama
energi dan sumber daya mineral," ujar Presiden Jokowi.
Lebih jauh Presiden mengungkapkan, bagaimana kerja sama yang
dilakukan dapat mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga matahari,
tenaga hidrogen dan smart grid. Selain itu, Presiden juga menyambut rencana
kolaborasi Vietnam dengan perusahaan BUMN dan perusahaan-perusahaan di
Indonesia untuk pemasaran motor listrik gesit di Vietnam.
"Indonesia Battery Corporation IBC untuk investasi pada
pembuatan baterai IV dan PT Inka untuk pembelian komponen bus listrik,"
lanjutnya.
Selain itu, kedua pemimpin negara juga sepakat meningkatkan
konektivitas kedua negara. Jokowi mengatakan, arus lalu lintas barang dan
wisatawan harus dikembalikan seperti masa pra pandemi. Rute penerbangan
langsung antar pusat bisnis dan pariwisata di kedua negara pun juga perlu
direvitalisasi.
"Maskapai dari kedua negara diharapkan dapat
memfinalisasi rencana rute penerbangan baru dari Danang ke Denpasar dan Ho Chi
Minh-Jakarta, maupun penambahan rute penerbangan Jakarta-Ho Chi Minh
City," kata Presiden.
Presiden juga menyampaikan, dari pertemuan yang dilakukan,
pembahasan dalam rangka upaya
peningkatan perdagangan kedua negara dan menetapkan target baru perdagangan
bilateral sebesar US$15 miliar pada tahun 2028. “Saya meminta perhatian
terhadap masih terhambatnya produk pertanian dan buah-buahan Indonesia untuk
masuk ke pasar Vietnam,” ungkap Presiden.
Presiden juga mengapresiasi pemerintah Vietnam yang telah
memberikan kepercayaannya kepada perusahaan-perusahaan Indonesia sehingga dapat
melakukan investasinya di Vietnam.
“Saya juga mengapresiasi kepercayaan pemerintah Vietnam
kepada perusahaan Indonesia untuk berinvestasi di Vietnam. Akumulasi investasi
Indonesia di Vietnam mencapai lebih dari US$600 juta dalam 101 proyek,” ujar
Presiden.
Indonesia dan Vietnam menyepakati sejumlah nota kesepahaman
dalam pertemuan bilateral tersebut. Tiga MoU tersebut yaitu mengenai kerja sama
energi dan sumber daya mineral, kerja sama penanggulangan terorisme, dan kerja
sama pemberantasan perdagangan ilegal narkotika.
Terkait perundingan zona ekonomi eksklusif kedua negara yang
telah dilakukan selama 12 tahun, akhirnya bisa diselesaikan. Terutama
perundingan mengenai garis batas ZEE kedua negara berdasarkan UNCLOS 1982.