PLTA di Indonesia Bisa Mencapai 95 GW, Namun Baru Dimanfaatkan 6,4 GW, Mengapa?

Iklan Semua Halaman

PLTA di Indonesia Bisa Mencapai 95 GW, Namun Baru Dimanfaatkan 6,4 GW, Mengapa?

Redaksi
Sabtu, 05 Maret 2022

 

PLTM Lodagung, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro, yang saat ini dikelaola oleh Jasa Tirta Energi.


ENERGITRANSFORMASI – Letak geografis keberadaan Tanah Air Indonesia, disebut-sebut sebagai surganya dunia. Bagaimana tidak, sejumlah impian bagi Negara lain terkait dengan alam nusantara ini, tidak dimiliki oleh Negara lain. Hal ini tentu saja menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakatnya.


Namun, kebanggan hanya tinggal kebanggan saja, jika apa yang diberikan Tuhan akan alam Indonesia tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, khususnya dalam pengadaan energy alternative atau saat ini disebut sebagai energy yang ramah lingkungan.


Energi Baru Terbarukan (EBT) sejatinya bukanlah mimpi belaka. Saat dunia internasional mencanagkan penggunaan energy bersih, Indonesia juga turut ambil bagian dalam program penyelamatan bumi ini. Indonesia memiliki sumber EBT t berasal dari tenaga surya, angin, panas bumi, hingga air.


Mengomentari bagaimana potensi alam Indonesia, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, untuk EBT yang bersumber dari air, potensi di Indonesia dinilai cukup besar.


Berdasarkan catatannya, potensi energi yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air ataupun Mikrohidro (PLTA/MH) mampu mencapai 95 gigawatt (GW). Namun sampai dengan sejauh ini, yang dapat dimanfaatkan baru 6,4 GW.


“Potensi yang sangat besar ini harusnya bisa dioptimalkan. Apalagi PLTA ini merupakan EBT yang bisa menjadi peaker atau mampu menjaga beban puncak jika dibandingkan dengan EBT yang lain seperti PLTS, PLTB yang masih bersifat intermitten,” ucap Mamit dikutip dari Tribunnews, Jumat (4/3/2022).

Lebih jauh, Mamit menjelaskan, bagaimana PLTA menjadi energy alternative yang diyakini sebagai pembangkit zero emission.

“Sama seperti panas bumi dan nuklir yang mampu menanggung beban besar. PLTA juga merupakan pembangkit yang benar-benar zero emision karena tidak memerlukan backup sumber energi lain yang berasal dari fosil,” jelasnya.


Terkait apakah nilai investasi PLTA bisa lebih murah dibandingkan yang lain, Mamit menyebutkan bahwa sangat mungkin sekali terjadi. Hal tersebut karena teknologi PLTA semakin berkembang sehingga bisa menjadi lebih murah lagi.


Seperti diketahui, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong dan mengakselerasi penggunaan EBT di Tanah Air. Target bauran EBT nasional pada tahun 2025 dipatok sebesar 23 persen.


Jika dirinci, angka bauran energi nasional terdiri dari EBT sebesar 23 persen, gas bumi sebesar 22 persen, minyak bumi sebesar 25 persen, dan batubara sebesar 30 persen.


“Investasi memang masih tinggi, tapi PLTA usianya juga akan lebih panjang. PLTA juga bisa menjadi konservasi sumber daya air kita serta memberikan manfaat lain yang cukup banyak. Multiplier effect-nya besar,” pungkasnya.