Membedah Ekonomi Sirkular, Merubah Sampah Menjadi Energi Keberuntungan

Iklan Semua Halaman

Membedah Ekonomi Sirkular, Merubah Sampah Menjadi Energi Keberuntungan

Redaksi
Jumat, 25 Maret 2022

 

Komisaris Utama PT Telkom Prof. Bambang Brodjonegoro, saat memamarparkan bagaimana ekonomi Sirkular merupakan industri yang menjanjikan disamping menjadi salah satu usaha dalam menjaga bumi.

ENERGITRANSFORMASI – Banyak pelaku usaha belum merasa tertarik, bagaimana sampah dapat menjadi sebuah lapangan usaha baru yang sangat menjanjikan untuk digeluti dalam sebuah ekonomi sirkular, yang jika digeluti secara serius akan menjadi sebuah industry yang sangat besar di samping menjaga keseimbangan alam melalui industry hijau. Untuk menjawab bagaimana sampah menjadi suatu industry yang menggiurkan, PPM Manajemen dan WWF membedahnya dalam gelaran Circular Economy Advocacy and Engagement, yang dilaksanakan secara webinar.

 

Di dalam ekonomi sistem sirkular, penggunaan sumber daya, sampah, emisi, dan energi terbuang diminimalisir dengan menutup siklus produksi-konsumsi dengan memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, penggunaan kembali, remanufaktur, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling). Jika ditilik lebih jauh, ekonomi sirkular dapat diterapkan disemua sector, baik itu fast moving consumer goods, konstruksi, pertanian dan sebagainya, sehingga sangat strategis dalam upaya mengoptimalkan sumberdaya, melindungi lingkungan dan berkontribusi pada ekonomi nasional maupun global.


 

Sebagai contoh dan mendesak di Indonesia adalah pada sektor plastik yang saat ini menjadi prioritas karena sebagai penyumbang kedua di dunia setelah negara Tiongkok dengan estimasi 0,48–1,29 juta metrik ton per tahun , oleh karenanya  presiden Jokowi bergegas untuk  mengurangi 70% sampah plastik sampai dengan tahun 2025. Kembali ke dalam konteks keberlanjutan produk plastik, konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui beberapa cara misalkan recycling plastik, upcycling plastik sebagai campuran aspal, mengubah plastik bernilai ekonomi rendah menjadi bahan bakar atau energi, dan sebagainya.

 

Dalam sambutannya, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki, menyampaikan berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas pada Januari 2021, ekonomi sirkular berpotensi menambah gross domestic product (GDP)  senilai Rp.593 Triliun hingga RP.638 Triliun dan mampu menyerap 4,4 juta pekerja serta mengurangi volume sampah hingga 18,53 % di tahun 2030.


“Menariknya berdasarkan data SMERU 2021 sebanyak 73% anak muda Indonesia berminat menjadi wirausahawan. Lebih lanjut jika kita melihat data UNDV90% UMKM tertarik dengan usaha yang ramah lingkungan dan inklusif. Kami terus mendorong start up anak muda yang bergerak di bidang ramah lingkungan, salah satunya dalam mengelola sampah plastik yang meningkatkan pendapatan dan pelestarian hingga 3 kali lipat,” ujarnya, Rabu 23 Maret 2022. 


Pengembangan UMKM ke depan harus diarahkan pada bisnis ramah lingkungan berbasis keunggulan lokal. Selain itu, pengembangan UMKM hijau inklusif  dan berkesinambungan merupakan tugas bersama dan harus terus diupayakan dengan kolaborasi dan kemitraan strategis antara pemangku kepentingan, baik pemerintah universitas, BUMN maupun sektor swasta lainnya,” lanjutnya.


Untuk itu, Menteri sangat menyambut baik gelaran yang diselenggarakan atas kolaborasi PPM Manajemen dan WWF, dalam upaya menumbuhkan perekonomian melalui industry hijau. “Saya berharap, gelaran webinar ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan dalam mewujudkan UMKM yang edukatif, ramah lingkungan, berkelanjutan dan berkontribusi pada kecepatan pemulihan ekonomi Indonesia. UMKM bangkit Indonesia maju,” katanya.


Sementara itu, Komisaris Utama PT Telkom Prof. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), di Indonesia, jumlah rata-rata produksi sampah mencapai 175 ribu ton per hari, atau setara dengan 64 juta ton per tahun.


“Jika kita masih melanjutkan kebiasaan penggunaan ‘business as usual’ (bisnis seperti biasa) terhadap sumber daya saat ini, maka pada tahun 2020 kebutuhan saat ini setara dengan 1,7 bumi. Dan pada tahun 2050 kita membutuhkan 3 kali dari bumi (tampungan-red) kita saat ini,” ungkapnya.


“Penerapan ekonomi sirkular dapat mengurangi emisi GRK dan bahkan membuat system pembangkit listrik yang carbon negative,” lanjutnya.


Dari manfaat yang besar tersebut, masih terdapat tantangan yakni perlunya dukungan Pemerintah seperti kebijakan serta insentif, mahalnya peralatan dan dukungan infrastruktur, ketersediaan pasokan bahan baku, ketersediaan informasi, ketersediaan sumber daya manusia dan  pengetahuan yang terakhir adalah  dukungan publik melalui perkuatan  pemahaman masyarakat terhadap ekonomi sirkular yang  melahirkan kesadaran dan partisipasi untuk makin mengutamakan produk-produk ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.


WWF dengan program Smart City Bersama Sekolah Tinggi Manajemen PPM saat ini ingin menjawab tantangan tersebut melalui gagasan untuk membangun dan memperkuat ekosistem sirkular. Diharapkan dapat menjadi pusat penguatan kapasitas sumberdaya manusia, pengetahuan, wadah berbagi gagasan dan jejaring yang berhubungan dengan ekonomi sirkular. Sebagai langkah awal adalah dengan membangun awareness dan menjaring gagasan para pihak untuk dapat nantinya diformulasikan kedalam isian implementasi.

 


Tujuan Webinar series kali ini adalah sebagai upaya memetakan dan menjaring gagasan dalam mendukung ekosistem circular economy melalui kemitraan para pihak, dimana Indonesia telah mengadopsi konsep circular economy kedalam visi 2045. Pemikiran ini perlu ditindak lanjuti dengan penyusunan strategi yang komprehensif dan kolaborasi antar pemangku kepentingan, seperti kementerian atau lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha industri dan mitra pembangunan yang dituangkan dalam policy brief terkait circular economy di Indonesia.