-->
  • Jelajahi

    Copyright © EnergiTransformasi.Id | Bertransformasi Bangun Negeri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Jokowi Ungkap Sulitnya Geser Energi Batu Bara ke EBT karena Ini

    Redaksi
    Sabtu, 26 Februari 2022, 07:34 WIB Last Updated 2022-02-28T04:04:56Z

    Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan dalam peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PT Poso Energy dan PLTA PT Malea Energy, pada Jumat, 25 Februari 2022. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev


    ENERGITRANSFORMASI – Di tengah tuntutan dunia internasional dalam pengalihan penggunaan energy baru terbarukan (EBT), Indonesia terus melakukan pengembangan EBT dari berbagai sector. Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang baru-baru ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di wilayah Sulawesi Tengah Poso berkapasitas 515 megawatt (MW) dan PLTA Malea berkapasitas 90 MW pada Jumat (25/2/2022).  


    Pembangunan kedua PLTA dengan total kapasitas 605 megawatt (MW) tersebut, merupakan hasil kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan Kalla Grup, perusahaan milik Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla. 


    Diungkapkan Presiden, pembangkit yang merupakan bagian dari pengembangan EBT di tanah air tersebut, menurutnya merupakan bagian komitmen Indonesia untuk menggeser penggunaan energi fosil ke energi terbarukan. 


    "Peresmian sebuah PLTA, ini berarti energi hijau atau energi terbarukan. Saat ini global memang mendesak untuk semua negara menggeser pemakaian energi fosil, utamanya batu bara, untuk masuk ke energi hijau," ungkapnya. 


    Ia mengatakan, energi yang berasal dari tenaga air merupakan salah satu dari banyak energi terbarukan yang dimiliki Indonesia. Jokowi bilang, RI pun potensi yang besar dari energi terbarukan mencapai 418 GW. Potensi energi terbarukan itu berasal dari energi surya, air atau hidro, bioenergy, angin, panas bumi (geothermal), hingga panas permukaan laut. 


    Oleh karena itu, dengan potensi tersebut RI bakal melakukan transisi dari penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbasis batu bara atau energi fosil ke pembangkit berbasis energi terbarukan. 


    "Semua ada di negara kita, hanya bagaimana kita bisa menggeser dari batu bara ke energi hijau ini bukan pekerjaan yang mudah karena banyak sekali PLTU kita," kata dia. 


    Jokowi menyebutkan, dengan potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, dirinya optimistis bisa mengejar target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 23 persen di 2025, lalu di 2030 menjadi 29 persen, hingga di 2060 tercapai emisi nol atau net zero emission (NZE). 


    "Di 2060 emisi nol ini sudah harus kita dapatkan. Tapi memang target-target seperti ini tidak mudah dikejar," ungkapnya. 


    Sementara itu, Dewan Penasehat Kalla Grup, Jusuf Kalla menambahkan, kerja sama antara Kalla Grup dan PLN dalam menciptakan energi bersih memang sangat diperlukan. Hal itu mengingat potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar, seperti PLTA Poso yang memanfaatkan aliran sungai Poso. 


    Menurut dia, pembangunan PLTA di Poso dilakukan dengan semangat menyejahterahkan masyarakat setempat. Ia bilang, ada 2.000 pekerja yang terlibat dalam pembangunan PLTA tersebut, di mana semuanya merupakan pekerja dari Indonesia. 


    "80 persen itu dari lokal Poso dan Tentena. Selebihnya itu berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Jadi tidak ada satupun orang asing yang bekerja di sini,” ungkap dia. 


    Poso rencananya akan dimaksimalkan sebagai pembangkit peaker yang akan dioperasikan selama waktu beban puncak, yaitu pukul 17.00-22.00 dengan Exclusive Commited Energy sebesar 1.669 giga watt hours (GWh) per tahun. Pembangkit ramah lingkungan ini telah terinterkoneksi dengan saluran transmisi 275 kV ke Sulawesi Selatan. 


    Tak hanya itu, PLTA Poso juga telah tersambung dengan saluran transmisi 150 kV dari pembangkit ke Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sementara itu, PLTA Malea yang memanfaatkan arus Sungai Saddang akan menambah keandalan sistem kelistrikan Sulawesi Selatan. Masuknya PLTA Malea bersama dengan PLTA Poso akan membuat cadangan daya PLN pada sistem Sulawesi Bagian Selatan menjadi sebesar 591,5 MW, dengan beban puncak sistem kelistrikan sebesar 1.517,6 MW dan daya mampu sebesar 2.109,1 MW.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    KONSTRUKSI

    +