Bagaimana Menelaah Pengembangan Minat dan Bakat Anak atau Eksploitasi Anak?

Iklan Semua Halaman

Bagaimana Menelaah Pengembangan Minat dan Bakat Anak atau Eksploitasi Anak?

Redaksi
Minggu, 20 Februari 2022

 

Talkshow webinar bertema "Mengembangkan Minat & Bakat Anak Tanpa Eksploitasi", yang digelar oleh Lentera Anak, Sabtu 19 Februari 2022.

EnergiTransformasi – Bukan tanpa alasan orang tua mendaftarkan buah hatinya dalam ajang pengembangan minat dan bakat, mengingat masa depan yang dipandang cerah bagi anak-anak nya kelak, jika sejak dini telah terasah minat dan bakatnya. Namun, menjadi pertanyaan besar, apakah minat dan bakat yang terekspos secara luas itu menjadi hal yang baik untuk diikuti, atau justru akan menjerumuskan anak dan menjadi penyesalan dikemudian hari?


Founder Lentera Anak Lisda Sundari, saat ajang minat bakat banyak tawaran yang diajukan. Mulai ada tawaran untuk endors dan menjadi menarik akhirnya berubah menjadi obyek. Itu wilayah abu-abu yang bisa saja masuk dalam wilayah eksploitasi. Ketika akhirnya dari keharusan anak melakukan ini dan itu sesuai kemauan produk, itu merupakan wilayah yang sangat abu-abu.


“Itu bisa saja dibilang eksploitasi. Sayangnya peraturan di Indonesia terkait minat dan bakat, tidak kuat. Untuk itu kita sebagai orang tua yang perlu melindungi,” ujarnya dalam diskusi secara online, Sabtu 19 Fabruari 2022.


“Kita ingin orang yang membuat pagar, mana batasan itu. Jangan sampai melewati batas, karena dampaknya akan ngeri sekali di tahun mendatang,” lanjutnya.


Sementara itu dalam waktu yang sama Founder Sejiwa Diena Haryana, menjelaskan secara policy kebijakan belum ada yang menyampaikan, sejauh mana anak dilibatkan dalam dunia digital. Atau, anak-anak sejauh mana boleh menjadi seseorang diajak mengendors sesuatu. “Tetapi tidak berarti dengan tidak ada peraturan, semua ok,” katanya.


Dirinya juga menyinggung, bagaimana medsos yang dianggap tempat untuk mempromosikan sesuatu menjadi hal yang positif, justru dirinya mewanti-wanti, bagaimana medsos menjadi salah satu target yang dipantau oleh para pelaku pedofil.


Bagi seorang pedofil, ada yang ketika melihat foto anak, lalu mereka beraktifitas sendiri, itu sudah cukup. “Yang seperti ini foto anak kita diperjual belikan untuk kepuasan seksual. Foto anak-anak kita, jangan salah bapak ibu sekalian bisa diambil dan diperjual belikan,” katanya.


Hal mengagetkan diungkapkan oleh Diena, bagaimana pelecehan seksual dapat terjadi kepada anak sejak masih usia yang sangat dini. “Kami mendapatkan jawaban teman kami di Malaysia yang mengurus korban kekerasan seksual, yang paling muda mereka temui itu berusia 6 bulan. Jadi bapak ibu sekalian, saya sebagai penggiat anak memikirkan bagaiaman anak-anak tumbuh kembangnya baik. Maksimal ketika menjadi dewasa, potensi mereka maksimal. Menuju ke sana banyak hal yang harus dijaga,” ungkapnya.

 

“Saya menyampaikan agar kita waspada agar anak kita jangan menjadi korban karena dimudahkan dengan dunia digital.Sebelum terjadi, kita perlu memberikan kewaspadaaan jangan sampai melebar,” tegasnya.


Menanggapi ungkapan Founder Sejiwa, Lisda mengatakan bijaklah menggunakan media social dalam megesksplorasi diri. “Saat kita ingin memposting, kita bertanya dulu apakah ini baik dan benar? Pastikan orang tua mendengar suara anak. Bukan berarti dalam bentuk kata-kata, asal anaknya senang.Ketika menggunakan kata-kata, kita juga harus tahu batasnya senang anak sampai mana. Bagaimana bahasa tubuh mereka,” katanya.


Saat mengikuti kompetisi lomba, menjadi catatan penting. Bagimana seorang anak akan di profile oleh panitia.  Menjadi hal berbahaya data pribadi anak sudah di profile dan semua orang mengetahuinya.”Ini sudah banyak aduan, memprofile data anak kita melalu acara seperti itu. Ratu ini, raja apa dan lain sebagainya. Lebih baik tidak usah. Saat ini belum ada metaverse (teknologi Augmented Reality (AR)-red) saja kita sudah kedodoran, bagaimana jika sudah ada,” ungkap Diena.


“Apakah seluruh orang yang  ada dalam program acara tersebut dapat dipegang kepercayaannya,” lanjutnya.


Diena juga menegaskan agar salah satu pendampingan jangan sampai teradiksi. Pada usia tertentu anak batasnya berada di ranah online. Ahli berbicara berbeda-beda. Anak sekitar usia 15-18 disarankan jangan lebih dari 4 jam. Semakin muda usia tentunya semakin sedikit. Lalu umur  berapa anak ada pada gadgetnya? Nalarnya anak harus jalan, emosinya harus berkembang dengan baik, fisiknya juga harus berkembang secara maksimal, kecerdasan emosi, nalar kognitif dan spriritual harus berkembang,” pungkasnya.