Menteri Suharso: Turnkey Project Diperlukan Untuk Mempercepat Penguasaan dan Penerapan Teknologi Industri

Iklan Semua Halaman

Menteri Suharso: Turnkey Project Diperlukan Untuk Mempercepat Penguasaan dan Penerapan Teknologi Industri

Redaksi
Kamis, 20 Mei 2021

Menteri Bappenas Suharso Monoarfa

ETI.ID - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional mengatakan strategi transformasi ekonomi Indonesia terdiri dari 3 tahap. Tahap pertama adalah penyelamatan ekonomi. 


“Upaya pemerintah dalam menyelamatkan perekonomian melalui PSBB, PPKM, dan PEN berjalan cukup baik. Ekonomi Indonesia diperkirakan akan pulih sejak Q2-2021, seiring dengan mulai terkendalinya kasus Covid-19,” ujar Menteri.


Tahap kedua, RKP 2022 menjadi kunci pemulihan ekonomi pasca Covid-19. Tahap ketiga, strategi transformasi ekonomi menuju visi indonesia 2045 dan TPB atau SDGs akan menjadi instrumen utama.


Hal tersebut disampaikan Menteri dalam diskusi clubhouse diaspora Indonesia, dengan tema Peran Inovasi dan Teknologi dalam Membantu Indonesia Keluar dari Middle Income Trap, Rabu, 19 Mei 2021.


Dalam kesempatan itu, Menteri juga mengatakan, kemampuan berinovasi di Indonesia masih rendah. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah rendahnya kuantitas dan kualitas riset.


Akibatnya ekspor produk berteknologi tinggi rendah dan terus menurun. “Untuk itu diperlukan industrialisasi teknologi melalui turnkey project,” ujar Menteri. 


Pengadaan teknologi industri melalui proyek putar kunci bertujuan mempercepat penguasaan dan penerapan teknologi industri agar dapat dikuasai, dimanfaatkan, dan dikembangkan di dalam negeri.


Menteri menjelaskan investasi yang masuk memberikan kesempatan terjadinya transfer teknologi. 


“Namun demikian, Indonesia harus meredesain transformasi industri dan teknologi agar bisa melangkah ke tahap berikutnya dan keluar dari middle income trap,” tutur Menteri.


Menutup pidatonya, Menteri menyampaikan 4 tahap untuk mendorong industrialisasi teknologi melalui investasi. Pertama, FDI absorption, yaitu Industri manufaktur sederhana dan masih membutuhkan foreign guidance.


Kedua, internalizing technology, telah memiliki industri pendukung, namun masih membutuhkan foreign guidance. Ketiga, creativity, yaitu menguasai teknologi dan manajemen serta mampu memproduksi barang berkualitas tinggi. Keempat, global leader, yaitu memiliki kemampuan penuh berinovasi dan mendesain produk serta menjadi global leader.